Pada tanggal 1 Maret 1942
Jepang mendarat di pulau Jawa yakni di Banten dipimpin oleh Jenderal Imamura
sendiri. Kemudian pendaratan di Eretan Wetan-Indramayu dipimpin oleh Kolonel
Tonishori dan pendaratan di sekitar Bojonegoro dikoordinir oleh Mayjen
Tsuchihashi. Tempat-tempat tersebut
memang tidak diduga oleh
Belanda. Pasukan gabungan Abdacom tidak mampu menghadapi pasukan Jepang
Tanggal 5 Maret 1942
Batavia jatuh ke tangan Jepang. Tentara Jepang terus bergerak ke selatan dan
menguasai kota Buitenzorg (Bogor). Akhirnya pada tanggal 8 Maret 1942 Jenderal
Ter Poorten atas nama komandan pasukan Belanda/Sekutu menandatangani penyerahan
tidak bersyarat kepada Jepang yang diwakili Jenderal Imamura. Penandatanganan
ini dilaksanakan di Kalijati, Subang. Dengan demikian berakhirlah penjajahan
Belanda di Indonesia. Kemudian Indonesia berada di bawah pendudukan tentara
Jepang. Gubernur Jenderal Tjarda ditawan. Namun Belanda segera mendirikan
pemerintahan pelarian (exile government) di Australia di bawah pimpinan H.J.
Van Mook.
Jelaskan mengapa
kedatangan Jepang ke Indonesia itu berjalan cepat dan merata ke berbagai
wilayah Indonesia! Keinginan Jepang untuk menguasai Indonesia karena Indonesia
kaya akan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri
Jepang. Untuk merealisasikan keinginannya itu maka sebelum gerakan tentara
Jepang itu datang ke Indonesia, Jepang sudah mengirim para spionase untuk
datang ke Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya. Itulah mengapa Jepang
kedatangan Jepang ke Indonesia itu berjalan cepat dan merata ke berbagai
wilayah Indonesia
2. Selamat Datang
“Saudara Tua”
Pada awalnya, kedatangan
pasukan Jepang disambut dengan hangat oleh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia
menyambut baik kedatangan balatentara Jepang karena menganggap akan membebaskan
bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan bangsa Belanda. Namun dalam
kenyataannya, Jepang datang dengan tujuan untuk menanamkan kekuasaannya, untuk
menjajah Indonesia. Hakko Ichiu berarti kesatuan keluarga umat manusia.
Ajaran tersebut telah memberi motivasi bangsa dan pemerintah Jepang untuk
membangun masyarakat dunia di bawah kendali Jepang. Semangat tersebut
diaktualisasikan dalam bentuk melancarkan semangat imperialisme dan ekspansi ke
Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.
Pihak tentara Jepang
terus melakukan propaganda-propaganda untuk terus menggerakkan dukungan rakyat
Indonesia. Setiap kali Radio Tokyo memperdengarkan Lagu Indonesia Raya, di
samping Lagu Kimigayo. Bendera yang berwarna Merah Putih juga boleh dikibarkan berdampingan
dengan Bendera Jepang Hinomaru. Simpati dan dukungan rakyat Indonesia itu
nampaknya juga karena perilaku Jepang yang sangat membenci Belanda. Di samping
itu, diperkuat pula dengan berkembangnya kepercayaan tentang Ramalan Jayabaya.
Menurut Jayabaya dalam buku ”Jangka Jayabaya” atau Ramalan Jayabaya. Pulau Jawa
akan kedatangan orang-orang katai yang berkulit kuning, yang akan menguasainya
dalam jangka waktu seumur jagung. Sesudah itu Jawa akan merdeka.
Tentara Jepang juga
mempropagandakan bahwa kedatangannya ke Indonesia untuk membebaskan rakyat dari
cengkeraman penjajahan bangsa Barat. Jepang juga akan membantu memajukan rakyat
Indonesia. Melalui program Pan-Asia Jepang akan memajukan dan menyatukan
seluruh rakyat Asia. Untuk lebih meyakinkan rakyat Indonesia, Jepang menegaskan
kembali bahwa Jepang tidak lain adalah “saudara tua”, jadi Jepang dan Indonesia
sama. Bahkan untuk meneguhkan progandanya tentang Pan-Asia, Jepang berusaha
membentuk perkumpulan yang diberi nama “Gerakan Tiga A” yaitu "Jepang
Pemimpin Asia", "Jepang Pelindung Asia" dan "Jepang Cahaya
Asia".
3. Pembentukan Pemerintahan Militer
Pada pertengahan tahun
1942 timbul pemikiran agar penduduk di daerah pendudukan dilibatkan dalam
aktivitas pertahanan dan kemiliteran sehingga pemerintah Jepang di Indonesia
kemudian membentuk pemerintahan militer. Kepulauan Indonesia dibagi menjadi
tiga wilayah pemerintahan militer.
·
Pemerintahan militer
Angkatan Darat, yaitu Tentara Kedua Puluh Lima (Tomi Shudan) untuk Sumatera.
Pusatnya di Bukittinggi.
·
Pemerintahan militer
Angkatan Darat, yaitu Tentara Keenam Belas (Asamu Shudan) untuk Jawa dan
Madura. Pusatnya di Jakarta. Kekuatan pemerintah militer ini kemudian ditambah
dengan Angkatan Laut (Dai Ni Nankenkantai).
·
Pemerintahan militer
Angkatan Laut, yaitu (Armada Selatan Kedua) untuk daerah Kalimantan, Sulawesi,
dan Maluku. Pusatnya di Makassar.

Selain kebijakan politik
di atas, pemerintah Militer Jepang juga melakukan perubahan dalam birokrasi
pemerintahan, diantaranya adalah pembentukan organisasi pemerintahan di tingkat
pusat dengan membentuk Departemen dan pembentukan Cou Sang In/dewan penasehat.
Untuk mempermudah pengawasan dibentuk tiga pemerintahan militer yakni:
1. Pembentukan Angkatan Darat/Gunseibu, membawahi Jawa dan Madura
dengan Batavia sebagai pusat dan dikenal dengan tentara ke enam belas dipimpin oleh Hitoshi Imamura.
2. Pembentukan Angkatan Darat/Rikuyun, yang membawahi Sumatera
dengan pusat Bukit Tinggi (Sumatera Barat) yang dikenal dengan tentara ke dua
puluh lima dipimpin oleh Jendral Tanabe.
3. Pembentukan Angkatan Laut/Kaigun, yang membawahi Kalimantan,
Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian dengan pusatnya Ujung Pandang (Makasar)
yang dikenal dengan Armada Selatan ke dua dengan nama Minseifu dipimpin
Laksamana Maeda.
Untuk lebih jelasnya,
Anda dapat melihat struktur Birokrasi pemerintahan Militer pada masa pendudukan
Jepang dengan melihat tabel di bawah ini.
|
No.
|
Struktur
|
Pejabat
|
|
1.
|
Gunshirekan (panglima
tentara) yang kemudian disebut dengan Seiko Shikikan (panglima tertinggi)
sebagai pucuk pimpinan. Panglima tentara yang pertama dijabat oleh Jenderal
Hitoshi Imamura.
|
Jenderal Hitoshi
Imamura
|
|
2.
|
Gunseikan (kepala
pemerintahan militer). Kantor pusat pemerintahan militer ini disebut
Gunseikanbu. Di lingkungan Gunseikanbu ini terdapat empat bu (semacam
departemen) dan ditambah satu bu lagi, sehingga menjadi lima bu. Adapun
kelima bu itu adalah sebagai berikut.
1.
Somobu (Departemen
Dalam Negeri).
2.
Zaimubu (Departemen
Keuangan).
3.
Sangvobu (Departemen
Perusahaan, Industri dan Kerajinan Tangan) atau urusan Perekonomian.
4.
Kotsubu (Departemen
Lalu Lintas).
5.
Shihobu (Departemen
Kehakiman).
|
Mayor Jenderal Seizaburo
Okasaki
|
|
3.
|
Gunseibu (koordinator
pemerintahan dengan tugas memulihkan ketertiban dan keamanan atau semacam
gubernur) yang meliputi:.
1.
Jawa Barat : pusatnya
di Bandung.
2.
Jawa Tengah : pusatnya
di Semarang.
3.
Jawa Timur : pusatnya
di Surabaya.
4.
Ditambah dua daerah
istimewa (Kochi) yakni Yogyakarta dan Surakarta.
|
Kolonel Matsui
(Bandung) , Letnan Kolonel Taga (Semarang),
|
Di dalam pemerintahan
itu, Jepang juga membentuk kesatuan Kempetai (Polisi Militer). Di samping
susunan pemerintahan tersebut, juga ditetapkan lagu kebangsaan yang boleh
diperdengarkan hanyalah Kimigayo. Padahal sebelum tentara Jepang datang di
Indonesia, Lagu Indonesia Raya sering diperdengarkan di radio Tokyo.
Pada awal pendudukan ini,
secara kultural Jepang juga mulai melakukan perubahan-perubahan. Misalnya,
untuk petunjuk waktu harus digunakan tarikh Sumera (tarikh Jepang),
menggantikan tarikh Masehi.Waktu itu tarikh Masehi 1942 sama dengan tahun 2602
Sumera. Setiap tahun (mulai tahun 1942) rakyat Indonesia harus merayakan Hari
Raya Tencosetsu (hari raya lahirnya Kaisar Hirohito). Dalam bidang politik,
Jepang melakukan kebijakan dengan melarang penggunakan bahasa Belanda dan
mewajibkan penggunakan bahasa Jepang.
4. Pemerintahan Sipil
Untuk mendukung
kelancaran pemerintahan pendudukan Jepang yang bersifat militer, Jepang juga
mengembangkan pemerintahan sipil. Pada bulan Agustus 1942, pemerintahan militer
berusaha meningkatkan sistem pemerintahan, antara lain dengan mengeluarkan UU
No. 27 tentang aturan pemerintahan daerah dan dimantapkan dengan UU No. 28
tentang pemerintahan shu serta tokubetsushi. Dengan UU tersebut, pemerintahan
akan dilengkapi dengan pemerintahan sipil. Menurut UU No. 28 ini,
1. Pemerintahan shu itu dipimpin oleh seorang shucokan. Shucokan
memiliki kekuasaan seperti gubenur pada zaman Hindia Belanda meliputi kekuasaan
legislatif dan eksekutif. Dalam menjalankan pemerintahan shucokan dibantu oleh
Cokan Kanbo (Majelis Permusyawaratan Shu). Setiap Cokan Kanbo ini memiliki tiga
bu (bagian), yakni Naiseibu (bagian pemerintahan umum), Kaisaibu (bagian
ekonomi), dan Keisatsubu (bagian kepolisian).
2. Pemerintah pendudukan Jepang juga dapat membentuk sebuah kota
yang dianggap memiliki posisi sangat penting sehingga menjadi daerah semacam
daerah swatantra (otonomi). Daerah ini ini disebut tokubetsushi (kota
istimewa), yang posisi dan kewenangannya seperti shu yang berada langsung di
bawah pengawasan gunseikan. Sebagai contoh adalah Kota Batavia, sebagai Batavia
Tokubetsushi di bawah pimpinan Tokubetu shico
Dari penjelasan tentang
kebijakan pemerintah militer Jepang di bidang politik dan birokrasi dampak yang
dirasakan bangsa Indonesia antara lain terjadinya perubahan struktur
pemerintahan dari sipil ke militer, terjadi mobilitas sosial vertikal dalam
masyarakat Indonesia. Sisi positif yang dapat Anda ketahui, bangsa Indonesia
mendapat pelajaran berharga sebagai jawaban cara mengatur pemerintahan, karena
adanya kesempatan yang diberikan pemerintah Jepang untuk menduduki jabatan
penting seperti Gubernur, dan wakil Gubernur, Residen, Kepala Polisi.


1 comments:
commentsnice info makasih gan kunjung balik ada penawaran serius bagi anda yang mengalami berbagai penyakit berat
ReplyGolden Gamat